“Ampuuuunnnnnnnnn!!!!!”
“Jangan siksa dia. Lepaskan!!! Jangan sakiti dia”.
Teriakan yang begitu keras membuat pendengaranku serasa terpukul sesuatu. Teriakan itu datang dari salah seorang teman kami yang kesurupan dalam perjalanan pulang dari Loka’ Kab. Bantaeng menuju Makassar. Matanya melototi semua orang yang ada di sekitarnya. Geram dan marah sejadi-jadinya. Dia memberontak ingin lepas dari pegangan kami. Kakinya meronta-ronta. Menggeliat ke sana-sini. Namun kami tak melepaskan genggamannya, takut mengamuk dan memukuli semua yang dekat dengannya. Kami berusaha keras menahannya.

Sore itu matahari telah naik sepenggal. Warna biru mulai nampak memudar di langit karena sinar matahari yang telah menyengat. Suasana mencekam. Teman-teman yang sedang kesurupan tak mampu lagi kami atasi. Bagaimana tidak, hampir semuanya kemasukan mahluk halus hari itu. Seorang dukun yang datang membantu kami pun kewalahan menangani pasien yang terlalu banyak.

Kewalahan. Kami kewalahan menangani masalah ini. Panik. Situasi inipun yang menjadikan teman-teman yang lain mengalami hal yang sama. Kesurupan. Kami terpaksa menyuruh sopir menghentikan mobil dalmas yang kami tumpangi untuk singgah di sebuah rumah panggung.

Sekilas kejadian pagi menjelang siang itu membuat kami panik. Benar-benar panik. Ditambah lagi perut yang sudah keroncongan karena tidaksarapan pagi tadi. Mungkin itu pula yang menjadi salah satu penyebab kesurupan. Lapar, pikiran kosong, dan akhirnya kesurupan. Hampir semua yang kesurupan mengalami hal yang sama.
“Siapa ada pulsanya? Cepat telpon Om Jihad. Mudah-mudahan dia belum jauh dari sini. Bilang saja keadaan darurat. Teman-teman kesurupan dan kita sudah kelelahan menanganinya”. Teriak Achi yang sementara memegang kaki Ira yang juga kesurupan.

Dengan sedikit berlari aku bergegas keluar rumah hendak bertanya kepada teman-teman yang mempunyai pulsa. Sementara di luar rumah tampak teman-teman yang lain dengan wajah lesuh dan kerongkongan yang kehausan. Ada yang duduk sambil bercerita dan entah apa yang sedang mereka bahas. Ada juga yang sedang memijat-mijat kepalanya. Kudekati Ansar yang duduk di teras rumah tempat kami singgah. Kelihatannya dia juga kehausan. Diteguknya air minum bermerk aqua.
“Anca, ada pulsamu? Mau kutelpon Om”. Kataku sambil mendekatinya.
“Tidak ada”. Jawabnya singkat.

Tampaknya kejadian ini membuat Ansar kaget. Wajahnya pucat.Aku berlalu meninggalkan Ansar menuju halaman rumah yang tidak begitu luas. Belum sempat aku bertanya, Ulfa langsung jatuh dari tempat duduknya lalu akhirnya tak sadarkan diri. Diapun kesurupan. Untung saja ada Ika di dekatnya. Kalau tidak, Ulfa pasti sudah jatuh ke tanah. Kini bertambah lagi satu orang yang kesurupan. Aku benar-benar bingung. Aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak teman kami yang kesurupan hari itu.

Matahari yang terus menyengat menambah kepanikan kami. Suara teriakan dari teman-teman yang kesurupan berperang dalam telingaku. “Bagaimana caranya menghubungi Om, sepertinya tidak ada yang punya pulsa saat ini”. Gumamku.Setelah menanyai beberapa teman, akhirnya ketemu juga teman yang punya pulsa. Meski hanya bisa untuk beberapa menit saja. Yang penting masih bisa dipakai menelpon.

Aku bergegas mencari nomor handpone Om Jihad. Aku masih dalam keadaan yang panik. Kenapa belum diangkat juga. Mungkin Om sedang di atas motor sehingga tidak mendengar nada dering ponselnya. Setelah mencoba menghubunginya beberapa kali, akhirnya diangkat juga.
“Halo..........!”
“Halo! Saya Rido’ Om! Di manaki’ sekarang?”,tanyaku.
“Di Jeneponto kota menuju Makassar. Kenapa?”, jawabnya di balik sana.
“Teman-teman banyak yang kesurupan Om. Kami tidak bisa lagi mengatasinya”.
“Posisimu di mana?”.
“Sekitar lima kilometer dari Bantaeng kota Om”.
“Begini. Tanyaki Achy, bawa saja ke Jeneponto. Saya tunggu di rumahnya Irsal”.
“Iya, Om. Sudahmi paeng Om. Assalamu Alaikum”.
“Waalaikummussalam”.

Setelah mengakhiri pembicaraan, aku langsung berlari masuk rumah. Terlihat beberapa teman yang kesurupan sedang diobati oleh teman kami sebisanya. Aku mendekati Achi dan mengatakan apa yang tadi dikatakan Om Jihad padaku.
“Cepat angkat teman-teman yang kesurupan ke mobil. Om menunggu di rumahnya Irsal. Nanti di sana baru diobati”. Teriak Achi yang masih memegang kaki Ira yang belum sadarkan diri.

Kami pun bergegas menuruti intruksi yang diberikan oleh Achi. Teman-teman yang lain membantu mengangkat teman yang kesurupan ke atas mobil dalmas yang kami tumpangi.
“Cepat angkat”. Teriak Achi. “Yang lain naik duluan ke mobil”, tambahnya.

Hawa matahari kian menyengat kulit kami. Setelah semuanya naik ke mobil, kami pun melaju dengan kencang.Sesak dan udara yang pengap ditambah lagi teman-teman kesurupan yang meronta membuat kepanikan kami bertambah. Mungkin karena terlalu banyak yang tak sadarkan diri atau apa. Entahlah. Yang jelas hari itu menjadi hari yang tak akan kami lupakan. Mungkin bagusnya dinamakan tragedi baksos Bantaeng. Karena peristiwa itu terjadi dalam perjalanan pulang dari Baksos Bantaeng menuju Makassar.
***

Perjalanan masih lumayan jauh. Kami masih harus menempuh perjalanan sekitar dua puluh kilometer untuk sampai ke tempat yang kami tuju. Mobil punkian melaju dengan kencangnya. Suara teriakan masih terdengar dengan jelas. Beberapa orang dari kami yang masih sadar memegangi teman-teman yang kesurupan. Sesak, gerah, dan suhu matahari yang memantul dari jalan beraspal membuat keringat kami mengucur deras. Namun kami tetap berusaha bertahan sampai ke rumah Irsal.

Di tengah perjalanan, teman yang kesurupan bertambah satu orang lagi. Kudus yang duduk dekat pintu hampir saja melompat dari atas mobil. Untung saja ditahan oleh teman yang lain yang duduk bersebelahan dengannya.

Perjalanan hari itu memang benar menakutkan dan sangat melelahkan.

Bagikan ke

0 Komentar