Aku ingin berbagi cerita ini kepada siapapun yang mungkin saja saat ini memiliki masalah yang sama. Mencinta seseorang. Semua pasti pernah mencintai atau sedang mengalaminya saat ini kan? Aku tidak perlu bertanya lebih banyak lagi, sebab kutahu manusia itu terlahir karena cinta dari ayah dan ibunya. Tidak ada seorangpun yang mampu mengelak darinya. Tak ada juga yang mempu menepisnya dengan alasan apapun. Bahkan tak ada seorang yang tahu kapan, di mana, dan kepada siapa perasaan itu akan hadir. Kepada orang yang tak pernah diharapkan mengisi ruang hati kita sekalipun. Karena kadang yang awalnya tidak kita sukai atau yang kita benci akan menjadi terbalik.

Begitupun aku, yang menyayangi dan tak akan pernah berhenti menyayangi terlepas dari “CINTA” untuk Rabb. Mungkin kalimatku ini terlalu feminim atau apalah istilahnya. Tapi satu hal yang pasti kusadari bahwa ketulusan menyayangi dari hati tulus ini akan membawaku kepada orang yang kusayangi. Orang yang semoga saja tak ada orang lain yang mampu menggantikan namanya di hatiku karena telah kukukuhkan nama itu dan telah kuikat dalam palung jiwa yang ada dalam diriku. Orang yang kunamai “bidadari”.

Aku tak pernah melupakan hal kecil apapun tentang dirinya. Senyumnya yang khas, kebersamaan dengannya, canda tawa bersamanya, dan bahkan air mata yang kadang hadir melengkapi kisahku dengannya. Semua karena rasa cinta dan sayang yang akan tetap bersemayam. Sungguh aku selalu merindukannya. “Hadirmu mampu melantakkan gunda yang menyekap tawaku.”

Aku mungkin tak pernah mampu menjadi yang terbaik untuknya, tapi aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya dan untuk kami berdua juga untuk orang-orang disekitar kami yang menyayangi dan mencintai kami. Aku percaya pada satu hal bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki kesempurnaan. Aku berusaha untuk mendekati kesempurnaan itu dengan bekal perasaan yang akan selalu untuknya. Aku hanya ingin mencintai apapun kekurangannya dengan cara yang sempurna. Aku tak peduli orang berkata apa tentangku. Aku hanya percaya pada rasa optimis yang selalu kupegang.

Tak banyak yang bisa kuberikan untuknya. Aku hanya bisa membutkannya sebuah lagu penguat rinduku. Mungkin juga beribu puisi yang telah kutulis takkan pernah mampu mewakili rasa sayang ini untuknya. Berjuta kata yang terangkai tak pernah mampu melampaui semuanya.

Kisah perjalanan hidupku masih sangat panjang dan aku ingin melewati semua itu hanya dengannya. Aku yakin kelak jika saling berusaha mengisi kekurangan masing-masing, hidup untuk bahagia bisa kami raih. Meski aku sadar, semua hanya Allah yang tahu. Namun, kita sebagai manusia diperintahkan oleh-Nya untuk berikhtiar dan berusaha mencapai kebahagiaan itu karena kebahagiaan itu tidak akan mencari kita tapi kita yang mencari kebahagiaan itu. Berusaha dan berdoa pada-Nya. Allah akan selalu membuka jalan untuk hamba-Nya yang selalu berdoa kepada-Nya.


Makassar, 18 Agustus 2011
Kau tetap bidadari dalam hidupku

Bagikan ke

0 Komentar