Kata ini kutemukan di facebook, "semua berawal dari kisah yang sederhana". Seperti itulah mungkin kisahku saat ini. Kisah sederhana yang kini membawaku di antara dua jalan yang mau tidak mau harus kulalui. Tentu saja hanya satu arah yang harus kupilih. Aku ibarat berada di tengah jembatan dengan kebingungan untuk melangkah ke arah mana. Aku bingung menentukan pilihan sebab aku tahu persis, pilihanku hari ini adalah penentu masa depanku kelak yang aku akan jalani sendiri. Aku tak ingin salah pilih meski perasaan itu lebih dominan seperti yang kurasakan saat ini.

Semalam aku minta solusi salah seorang seniorku yang biasa memberikan saran padaku. Aku bertanya soal ini tapi seolah-olah bukan aku yang mengalaminya. Tapi, dia yang sudah tahu seperti apa aku kalau lagi bermasalah langsung saja menebak.

“Mau dengar ceritaku malam ini?”, tanyaku.
“Cerita apa? Bilang saja kalau ada masalah. Sempat saya bisa membantu”, jawabnya seolah-olah sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan.
***

Pagi baru saja membangunkanku dari lelap. Yah, setidaknya semalam aku sudah bisa tidur nyenyak setelah berbagi cerita kepada kakak seniorku. Aku melakukan aktivitas seperti biasa. Bangun, bersih-bersih kamar, mandi, sarapan, lalu berangkat ke kampus. Hari ini dalam hatiku serasa ingin cepat-cepat sampai di kampus. Entah apa yang menarikku begitu kuat.

Setelah sarapan, aku pamit pada kedua orang tuaku. Di depan rumah sudah terdengar suara klakson motor. Rupanya kak Ahmad sudah menungguku. Kak Ahmad inilah yang selalu mengantarku ke kampus hampir setiap hari karena kami satu kampus. Hanya saja fakultas yang berbeda. Dia juga yang mengajariku memainkan biola.

“Tunggu!”, teriakku dari dalam rumah.

Aku cepat-cepat memakai sepatu berwarna hitam yang menjadi sepatu andalanku selama kuliah dua tahun ini. Wajahku tampak lebih berseri-seri. Tidak seperti hari-hari kemarin sejak masalah yang satu ini mendatangiku. Terjebak di antara dua jalan. Orang yang selalu dekat denganku ataukah sang kekasih yang kucintai.

Terkadang, masalah ini aku anggap tidak ada sebab memang tidak ada masalah antara aku, dia dan kak Ahmad. Tapi beberapa hari terakhir ini, aku selalu dibayang-bayangi perasaan takut jika salah satu diantara mereka tahu bahwa aku dan Nandar telah lama menjalin kasih. Sementara kak Ahmad dengan perasaan cintanya tidak pernah mengetahui hal ini. Aku takut berkata jujur padanya, sebab aku tahu bagaimana perasaan kak Ahmad padaku. Aku takut dia akan menjauh dan menghindar dariku kalau tahu aku telah menjadi pujaan hati seseorang. Dan orang itu adalah kak Nandar, tetangga sekaligus temannya sendiri. Ketakutan itu yang selalu hadir dalam pikiranku. Ketakutan yang kadang membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Aku benar-benar bingung. Apa yang harus aku lakukan jika ketakutanku ini betul-betul menjadi kenyataan. Aku tak ingin kehilangan keduanya.
Seperti biasa, sepulang dari kampus aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku ke sebuah taman kecil yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusku. Tentu saja untuk berlatih memainkan biola. Hampir tiap hari rutinitas ini kulakukan. Sejak saat itu, biola adalah sahabat yang selalu mendampingiku kemanapun aku pergi. Berawal dari sinilah kisah yang kini sedang kualami.

Tiga bulan latihan, aku juga sudah bisa mengambil andil mengiringi teman-teman seni yang lain saat pentas musik atau pentas musikalisasi puisi. Kak Ahmadlah yang paling berjasa mengajariku memainkan alat musik gesek ini selain kemauan dan usahaku belajar sendiri. “Bermain musik itu tidak hanya mengandalkan ketekunan berlatih dan feeling saja, tetapi juga harus memiliki kemauan untuk belajar sendiri menemukan tekniknya”. Setidaknya kalimat itu yang sedikit memberikan semangat padaku untuk terus belajar biola di taman dekat kampus, di rumah, atau dimana saja ada kesempatan.

Dengan semangat yang kembali berapi-api, aku memasuki area taman tempatku biasa berlatih biola. Aku menuju tempat duduk yang seolah sudah menjadi rumah keduaku saat latihan.

“Kenapa kak Ahmad belum datang ya?”, kataku dalam hati.

Sambil menunggu sang guru datang, aku mengeluarkan biola dari tas dan memainkan sebuah instrumen dari Persia yang baru dua hari ini kupelajari. Itulah instrumen favoritku saat ini.
Sudah sejam lebih sang guru yang kutunggu belum juga menampakkan tanda akan kedatangannya. Kulirik jam di tangan kananku. Sekarang sudah jam 5 sore. Matahari mulai beranjak menuju tempat tidurnya pertanda sebentar lagi akan gelap.

Entah mengapa kegelisahan dan kegundahan hati kembali menggorogoti hatiku. Aku serasa tiba-tiba berada di alam tak berpenghuni. Sepi, gelap, dan menakutkan. Perasaamku kini tak menentu. Persis yang kualami ketika membayangkan apa yang selalu menjadi ketakutanku akhir-akhir ini. “Semoga ini hanya perasaan sesaat saja dan akan hilang setelah malam datang”.
***

Tiga hari ini kak Ahmad tak pernah lagi menjemput dan mengantarku ke kampus. Sudah tiga hari ponsel kak Ahmad tidak aktif. Entah berapa kali aku menghubunginya dalam sehari. Aku tak bisa menghitungnya lagi. Pesan singkat yang kukirim ke nomornya pun tidak terkirim. Tiga hari ini pula aku selalu berharap ada suara klakson motor yang berbunyi saat pagi datang. Lalu aku keluar dari rumah dan mendapati senyum simpul ciri khas dari kak Ahmad dengan mengendarai sepeda motor butut kesayangannya.

Mengapa kegelisahanku tak juga hilang? Mengapa yang kuingat hanya satu nama saja? Semua pikiran-pikiran itu seolah menyeretku ke dalam mulut jurang yang amat terjal. Aku sungguh tak mampu menepiskannya dari benakku. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat saat-saat seperti ini. Terasa ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Apa yang terjadi dengan diriku? Ya Allah, tenangkan hati hamba-Mu ini. Hilangkan kegundahan hatiku ya Allah.

Siang ini, matahari yang begitu terik masih menjadi kelumrahan di kota Makassar. Begitu menyengat hingga kantuk tak mampu lagi kutahan. Aku tertidur dengan sejuta tanda tanya dalam benakku. Siapa yang harus kupilih? Orang yang mencintaiku dan aku pun mencintainya meski saat ini kami jarang bertemu dan berkomunikasi karena dia sibuk bekerja. Ataukah orang yang mencintaiku meski aku sendiri telah menganggapnya sebagai saudaraku. Aku benar-benar pusing. Bukan karena aku adalah kekasih kak Nandar. Bukan juga karena kak Ahmad adalah orang yang selama ini selalu setia mengantarku ke manapun. Tapi, yang paling aku bingungkan saat ini adalah karena kak Ahmad itu berteman baik dengan kak Nandar. Aku tak ingin mereka saling menghindari satu sama lain hanya karena aku. Aku tak ingin itu terjadi.
***

Suatu hari, aku dan kak Nandar bertengkar. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Tiba-tiba saja aku menolak ajakannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang jauh-jauh datang ke Makassar hanya untuk menemuiku. Padahal rencana ini jauh-jauh hari sudah kusanggupi. Alasan yang kuberikan pun tidak logis memang. Aku tahu kak Nandar pasti sangat kecewa dengan sikapku. Aku sadari itu. Tapi entah apa yang merasukiku sehingga menolak ajakannya. Kak Nandar pergi berlalu meninggalkanku dengan perasaan kecewa. Aku masih duduk terdiam entah apa yang kupikirkan.

Sudah beberapa hari ini kucoba menghubunginya untuk meminta maaf atas kejadian itu, tapi handphone-nya selalu tidak aktif. Aku menyesali sikapku yang tak semestinya seperti itu. “Aku harus minta maaf secepatnya”, gumamku. Kuputuskan untuk mendatangi tempat tinggalnya tapi diapun tak ada. Menurut teman sekamarnya, kak Nandar sudah seminggu pulang kampung.
***

Sudah hampir sebulan aku tidak berkomunikasi dengan kak Nandar. Aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya tapi aku tak tahu kapan dia pulang dari kampungnya. Di tengah kerinduan dan kebingunganku tiba-tiba HaPeku berdering. Wajahku langsung saja berubah jadi ceria karena kak Nandar yang menelfon.

“Halo......!”, kataku.
“Iya. Bisa ketemu hari ini?”, jawabnya.
“Bisa. Di mana? Kakak sudah di Makassar?”
“Di taman.”
“Iya, kak!”

Alangkah bahagianya aku hari ini. Orang yang kurindukan ternyata sudah kembali ke Makassar.
Hari sudah sore. Terik matahari perlahan berkurang. Aku bergegas menuju taman. Daru kejauhan kulihat kak Nandar sedang duduk di bawah pohon mangga di taman itu. Aku mendekatinya.

“Sudah lama nunggunya?”, tanyaku.
“Lumayan”, jawabnya singkat.
“Ada apa kak? Kenapa minta ketemu di sini?”
“Ada yang ingin kukatakan padamu. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku ini. Maaf jika ini tidak seperti yang kau harapkan. Sebenarnya aku juga berat untuk mengatakan ini padamu”.
“Keputusan apa? Maksud kakak apa?”, aku penasaran dengan apa yang baru saja dikatakannya.
“Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita”.

Aku kaget dengan apa yang diucapkan kak Nandar barusan. Perasaan senang tiba-tiba berubah menjadi perasaan kecewa.

“Kenapa harus begitu, kak! Apa salahku? Aku minta maaf kalau penyebabnya adalah masalah yang kemarin. Aku benar-benar minta maaf”, kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Masalahnya lebih besar dari itu tapi pokok permasalahannya adalah persoalan itu. Hanya ini jalan satu-satunya yang harus kuambil meski dengan hati yang sakit”.

Suasana menjadi hening. Air mataku tak mempu lagi kutahan. Menetes dan jatuh bersama kerinduanku. Hatiku terasa kosong dan hampa.

“Aku berharap, kita tidak menyesal atas apa yang terjadi saat ini. Aku akan tetap menyimpan cintaku padamu. Terima kasih karena selama ini kau telah memberiku kebahagiaan. Maaf jika kebahagiaan itu tak mampu membuatku bertahan dari keputusan ini.”

Setelah pamit, kak Nandar berlalu meninggalkanku. Aku hanya menangis dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Semuanya telah hancur. Pupus dan hanya kenangan bersamanya yang melekat.
***

Saat ini aku mempunyai kebiasaan baru yang buruk. Mengurung diri di kamar dan murung. Aku masih tak percaya dengan keputusan kak Nandar untuk mengakhiri hubungan kami. tak pernah lagi ngumpul dengan teman-teman di kampus atau berlatih biola.

“Biola?”. Aku teringat pada kak Ahmad. Mungkin dia bisa memberikan semangat untukku. Aku memandangi biola di dinding kamarku. Aku harus menemui. Kuputuskan untuk mendatangi rumah kak Ahmad.

Sampai di gerbang rumahnya, aku heran dengan deretan kursi di sana. Sepertinya ada orang yang meninggal. Tapi siapa? Aku bergegas melangkah memasuki rumah bercat warna putih itu. Aku bertemu dengan ibu kak Ahmad yang sedang menangis. Aku memberanikan diri bertanya mengapa ia menangis.

“Ahmad telah meninggal dunia karena kecelakaan 2 hari yang lalu”, jawabnya dengan tangisan.

Kini, lengkap sudah yang kualami. Ditinggalkan oleh dua orang yang sangat tidak kuinginkan meninggalkanku. Pada siapa lagi aku harus berbagi? Aku hanya bisa menangis karena kuyakin dengan air mata itu, bebanku bisa berkurang walau hanya sedikit. Aku kini sendiri.......

Makassar, 10 Agustus 2011

Bagikan ke

0 Komentar