Membran luka yang masih basah di tiap sisi jantung tak membuatku berhenti mendaki gunung dan melewati lereng kehidupan yang teramat terjal. Begitupun dengan keyakinan pada diriku bahwa di depan sana ada magnet yang menarikku untuk terus berjalan. Tak pernah terbayangkan jika kelak keyakinan itu kusam oleh deru dan liarnya samudera kehidupan ini. Membuat dayungnya patah dan akhirnya terdampar pada satu titik yang tak jelas muaranya. Ke barat atau ke timur? Mungkin juga ke selatan atau mungkin ke utara!

Perahu itu berlabuh tepat di dermaga rindu yang selama ini kucari setelah lama mendayung di empat penjuru angin. Saat jingga masih menguasai jiwaku yang rapuh. Ketika matahari tergelincir dari tahtanya menuju batas pandangan di balik cakrawala sana lalu raib. Yah..., tepat di barat sana. Tapi itupun tak bertahan lama. Aku dipertemukan di malam yang paling pahit dalam hidupku. Dia menancapkan belati hingga ke jantungku lalu berdarah. Dia mengingkari janjinya untuk tidak menyakiti perasaan ini. Dia meninggalkanku dalam tangis dan duka.
***

Malam ini terlalu singkat bagiku. Malam yang tak pernah kuinginkan seperti ini. Malam yang kini menjadi petaka. Seharusnya aku merasa bahagia seperti mereka, tapi aku…..? Aku hanya bisa menangis dan menyesali semua yang menimpaku. Namun tak apalah, sebab kuyakin esok akan ada cerita yang lebih indah!. Kuyakinkan diriku dengan sisa tekad yang masih bertahan dari remuk hati yang nyaris tak terlihat lagi. Berusaha menghalau segala kusutnya perjalanan hariku saat ini. Sebentar lagi akan menjadi deraian air mata yang tak akan pernah berhenti. Keputusan yang akan melahirkan sesal suatu saat nanti. Waktu akan mengantarkannya pada sebuah puncak yang suram. Aku tak kuasa lagi menahan air mataku.
"Kenapa kembali lagi?", tanyanya padaku. Aku tak menjawab. Aku hanya memperhatikan raut wajahnya yang seolah tak menginginkan keberadaanku di sini lagi. Muak dan marah sejadi-jadinya. Matanya berbinar-binar dan sedikit lagi air mata pasti menetes. Tak bisa disembunyikannya begitu saja. Sebuah kepedihan yang tak terhitung kedahsyatannya.
"Aku pergi sekarang. Aku tak akan pernah kembali lagi. Kuharap, esok atau lusa kau tak pernah menyesali semuanya", kataku setelah mengambil kenangan paling berharga yang tidak kau inginkan lagi berada di tempat itu.

Ia tak juga beranjak dari tempat duduknya. Ia benar-benar ingin aku pergi untuk selamanya. "Kelak kau akan mencariku lagi. Meski saat ini buatmu, aku tak ada lagi", kataku sambil melangkahkan kakiku keluar dari tempat yang pernah mengukir sejuta kenangan bersamanya.

Kakiku terasa berat melangkah meninggalkan kenangan di tempat itu. Ingin kuteteskan air mataku tapi tak bisa juga. Mencoba mengingat masa lalu yang tak mungkin kembali lagi. Dia tak lagi seperti yang dulu. Semua sudah berubah. Semuanya.....!!! Saat-saat seperti yang dulu di waktu yang sama dengan tanggal sekarang, 14 Februari. Tak ada lagi kado sekuntum bunga yang kau berikan seperti tahun kemarin.
***

Aku tak percaya dan tak pernah bisa membayangkan semua yang telah kita lalui selama tiga tahun. Dan semuanya harus berakhir tepat ketika mimpiku untuk bersanding bersamamu hingga kelak mulai menampakkan kejelasan parasnya.

Apa yang harus kukatakan pada orang tuaku jika dia bertanya tentang keadaanmu padaku? Aku harus menjawab apa jika aku ditanya tentang pekerjaanmu? Dan jawaban apa yang harus kuberikan jika mereka bertanya tentang hubungan kita? Haruskah aku berpura-pura tersenyum dan berkata, “Dia baik-baik saja. Dia lagi banyak kerjaan”. Haruskah aku menyembunyikan kenyataan ini dan menguburnya begitu saja?
Seisi hatiku remuk dan tak berwajah lagi. Semakin berat kuayunkan langkahku meninggalkan apa yang pernah mengakar. Aku berimpi? Sesak dan penuh dengan tanda tanya yang tak satupun kata bisa kurangkai untuk menjawabnya.
***

Selama tiga hari aku terus mengalirkan air mata yang seakan tak ada habisnya. Tak percaya tapi itulah kenyataannya. Sebentar lagi, kerinduan itu benar-benar akan berbaur jadi air mata yang telah lama mengendap. Sesaat setelah semua menjadi satu. Tunggulah sampai ia datang dengan wajah yang haus. Sebentar lagi.

Air mataku yang jatuh tak terasa memang. Seperti hatiku yang kini tak merasa lagi. Hambar. Aku tak pernah merasa seperti apa yang kini menggarap habis dalam pada sebidang sisi hatiku. Aku tak percaya semua sirna. Aku tak melihat lagi semerbak bunga di binar matamu yang paling indah. Yang kulihat hanya bara dan amarah kebencian. Kebencian teramat dari semua kebencian yang ada. Apa yang salah dariku? Padahal selama ini aku tak pernah mengganggu kedamaian hatimu. Tak pernah ada masalah dan tak pernah pula kau mengeluh. Dan yang paling bodoh lagi saat kau menelanjangiku dengan kesalahan yang sama sekali tak pernah kuperbuat. Seperti inikah caranya membalas apa yang telah kuberikan? Seperti inikah kau membalas ketulusan cinta dan kasih sayangku? Tuhan, aku tak tahan lagi. Rasanya ingin kukubur saja tapi kenangan itu memaksaku menahannya meski teramat parih.
***

Sebentar lagi malam akan semakin larut. Aku takut jika aku tak mampu melewatinya tanpamu. Malam ini aku benar-benar takut pada gelap. Aku ketakutan dan terus meneteskan air mata. Di mana aku harus mengadu saat-saat seperti ini? Sementara kau tak ada lagi di sini. Tuhan, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu.

Kuselesaikan di Makassar, 27 Januari 2011
140208-270111

Bagikan ke

0 Komentar