Membran luka yang masih basah di tiap sisi jantungnya tak membuat ia berhenti untuk mendaki gunung dan melewati lereng kehidupan yang teramat terjal. Begitupun dengan keyakinan pada dirinya bahwa di depan sana ada magnet yang menariknya untuk terus berjalan. Tak pernah terbayangkan jika kelak keyakinan itu kusam oleh deru dan liarnya samudera kehidupan ini. Membuat dayung patah dan akhirnya terdampar pada satu titik yang tak jelas muaranya. Ke barat atau ke timur? Mungkin juga ke selatan atau mungkin ke utara!

Perahunya berlabuh tepat di dermaga rindu yang selama ini ia cari setelah lama mendayung di empat penjuru angin. Saat jingga masih menguasai jiwanya yang rapuh. Ketika matahari tergelincir dari tahtanya menuju batas pandangan di balik cakrawala sana lalu raib. Yah...! Tepat di barat sana.

To be continue......

Bagikan ke

0 Komentar