Aku ingin mengatakan hal tentang kerinduanku
Setelah kubuka lagi memoar yang telah usang
Kenangan dulu.....
Detak jantungku tak beraturan kala kubaca satu persatu puisimu
Oh..... Aku tak sanggup membacanya sampai akhir
Hanya sampai pertengahan saja
Aku memikirkan esok saat tak melihatmu di sana
Membacakan puisi sambil bernyanyi bersama
Seperti dulu.....
Menyanyikan lagu tentang kerinduan
Pada tiap sudut penjuru dan untaian tiga simbol

Aku menulis puisi ini dalam keadaan tak stabil
Antara tangisan dan ketakutan yang menggoda
Melebur pada tiap bait puisi yang kutulis
Kerinduan pada musim yang tak pernah kembali

Aku ingat satu kalimat dalam puisi yang kau buat
“kabarkan pada bulan dan matahariku....
Pilar itu tegak kembali......sial, aku ingat lagi kalian pada mimpiku malam ini”
Seperti ketika kau menulis puisi itu
Aku menemukan satu makna yang tak pernah kutahu datang dari mana
Semua tak terduga menghantam nuraniku

Aku merindukan kalian di sini......
Pada sisa-sisa kisah yang pernah mekar
Yang menjadikan setiap jejak tak mampu kutampik
Mengingatnya atau mengelak dari bayangan yang menyelimuti hariku

Mengapa aku tiba-tiba ketakutan di tempat ini.....
Sendiri, saat kulihat lagi satu kata yang telah mati suri
“Enam Mata Badik”
Mengapa tiba-tiba wajah kalian memenuhi pikiranku
Saat kubaca kembali puisi kalian yang juga tentang kerinduan
Masih dengan satu kata itu

Kupandangi langkah jarum jam yang terus berlalu
Kukirim kerinduan ini pada malam lewat sebuah puisi
Mungkin tak bermakna atau mungkin tak berwajah
Sebab kerinduan ini tak lagi mampu kutepis
Sebab kerinduan ini menjerat hingga aku tak berdaya
Sebab kerinduan ini telah menjalar pada aliran darahku
Aku merindukan kalian......
Sungguh!!!

Makassar, 10 Agustus 2010
Hening, dingin, tak berwajah!!!

Bagikan ke

0 Komentar