waktu tertata di bentangan semesta
tak mampu kutelusuri dengan jasad lemah
tapi, aku masih mampu mengeja namamu

serpihan-serpihan sunyi masih temaniku
menyulam aksara di belantara kelam
meski telah kucoba temukan cahaya
pada persenggamaan air dengan bias matahari
namun cahaya itu kian jauhiku
sebab rindu tak lagi atas namaku

biarkan cahaya melambai pada langit
lalu,
akan kutitip makna tentang sunyi pada malam
takkan lelah kuajari batinku tanam cinta
sebab detak alam masih aliri urat nadiku

esok, jika nafas tak lagi bernaung di bumi
beri aku lentera
untuk sekedar kujadikan matahari pada jejakku
dan sapa ragaku yang tak sempat
tetesi jiwamu dengan embun
agar aku hadir bersama senyum esok nanti
walau senja kemarin sunyi, sepi
temaniku melukis bayangmu di angkasa
namun jiwa, raga, dan jasadku akan tetap
mengeja namamu

Makassar, 2007/2008

Bagikan ke

0 Komentar