Oleh: Ian Ipass

Kawan......
Mengapa tak kau hapus
Air mata pertiwi yang terus terurai?
Tahukah kau,
Ia terlalu lelah untuk meratap

Sudahkah kau seka air mata di pelipis pertiwi?
Atau kau hanya bersolek dan berkaca
Merias pagi dengan darah
Yang menetes di atas bentangan waktu?

Pernahkah kau tanam mimpi
Melihat pertiwi dalam isak haru?
Tatap mentari yang selalu teranginya
Jalan bukanlah akhir tanpa titik
Hidup bukan tanpa atap
Beton-beton kan selalu jadi tabir langkah tuk laluinya

Kawan.....
Hentikan isak itu
;hentikan
;hentikan.......

Kampus Biru, 21 Mei 2008
Kutulis saat jiwaku terkapar dalam bisunya waktu

Bagikan ke

0 Komentar