“Pak, tolonglah pak. Saya butuh sekali uang itu”, ucap perempuan bertubuh usang di hadapan bosnya. Perempuan berekonomi rendah dan ditinggal mati suaminya lima tahun yang lalu datang mengiba pada bosnya. Namanya Khadija.
“Anak saya sedang sakit. Saya mohon bapak mau meminjamkan uang kepada saya. Saya bersedia kerja siang malam untuk melunasinya, asal bapak mau pinjami saya uang itu”, tambahnya. Linangan air mata terus mengalir meninggalkan mata perempuan berambut putih itu.

Sementara Subono, bos yang sombong itu tak peduli. Ia hanya asik dengan rokok cerutu di tangan kanannya. Mulutnya tak bernyanyi sebait lagu pun. Kepalanya disandarkan pada kursi berkaret busa tebal terbungkus plastik dari kulit ular. Sesekali ia menatap Khadija dengan mata berapi-api. Asap rokok kian tebal memenuhi ruangan berukuran besar.
“Anak saya sedang dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang banyak. Sekali lagi saya meminta dengan sangat, bapak bermurah hati meminjamkan uang kepada saya”, dengan nada sendu Khadija melanjutkan kata-katanya.

Udara siang itu kian panas. Cahaya mentari yang menyelinap diantara lubang-lubang kecil di balik jendela dengan ganasnya menjilat tubuh mereka. Sebuah kipas angin berwarna putih buram pun tak mampu menghapus peluh. Akhirnya, Subono membuka mulutnya yang dipenuhi asap rokok. Wajahnya yang sangar membuat Khadija agak ketakutan. Matanya melotot seperti seekor harimau kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Telinganya berubah menjadi merah. Kata-katanya begitu kasar.
“Kamu pikir semudah itu mendapatkan uang?”, bentaknya sambil mengacungkan telunjuk ke arah Khadija. “Di mana-mana, orang itu harus bekerja dulu sebelum terima uang. Eh kamu malah minta uang sebelum bekerja. Atau cari saja pekerjaan lain yang bisa dengan mudah mendapatkan uang! Dasar pemalas”, cemohannya menambah perih yang menyelimuti perasaan Khadija.

Khadija terdiam tanpa berucap sepenggal katapun. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Air matanya masih tetap mengalir dalam sungai kedukaannya. Perasaannya berkecamuk. Sedih bercampur dengan kemarahan. Emosinya langsung meledak tapi tidak diperlihatkannya pada Subono. Ia takut Subono bertambah marah dan benar-benar tidak mau meminjamkan uang kepadanya karena hanya dialah satu-satunya harapan mendapatkan uang untuk biaya anaknya di rumah sakit. Khadija tidak ingin hanya gara-gara itu ia kehilangan kesempatan. Ia rela melakukan apa saja demi kesembuhan anaknya. “Aku rela dicaci maki asal anakku sembuh”, gumamnya dalam hati.
“Saya janji akan bekerja keras untuk melunasinya. Saya rela bekerja apapun yang bapak inginkan asal bapak mau berikan uangnya”, Khadija kembali memohon setelah amarahnya bisa diredam.
“Pokonya saya tidak mau tahu. Kamu harus bekerja dulu. Setelah itu, kamu saya gaji”
“Tapi pak, kalau menunggu sampai bulan depan anak saya bagaimana?”
“Kalau kamu tidak mau bekeja lebih baik kamu pergi saja dari hadapanku. Saya tidak mau waktu saya terbuang sia-sia hanya untuk urusan sekecil ini. Sekarang kamu keluar dan ruagan saya!” Bentak Subono sambil menunjuk ke arah pintu.

Alangkah sedih dan pilunya hati Khadija mendengar pekataan bosnya. Kini ia bingung dan tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Ia tak tahu ke mana lagi ia harus mengadukan nasibnya. Belum lagi waktu yang sangat sempit karena anaknya harus segera diobati. Jadi, Khadija tak punya lagi waktu yang banyak untuk mencari uang apalagi harus menunggu sampai bulan depan. Bisa-bisa anaknya tidak tertolong lagi Pak.
Dengan langkah tertatih-tatih, Khadija meninggalkan neraka berhiaskan emas permata itu. Sementara Subono hanya tersenyum sinis dan tak sedikitpun menaruh iba dengan keadaannya. Dia memang orang yang tak punya perasaan. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri. Subono juga tak pernah peduli dan tak mau peduli dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Penderitaan Khadija kian bertambah. Bukan uang untuk pengobatan anaknya yang didapat tapi malah cacian yang diterimanya. Harapan untuk mendapatkan pinjaman dari Subono pupus sudah.

Dengan perasaan tak terkontrol, Khadija melangkah menuju sebuah rumah sakit. Dan alangkah terkejutnya Khadija setelah sampai di sebuah kamar berukuran mini lantai tiga. Di kamar itu sudah ada dua orang dokter dan seorang suster yang sedang berusaha menyelamatkan nyawa seorang bocah. Khadija kemudian berlari mendekati mereka.
“Ada apa dokter?”, tanyanya kepada salah seorang dokter. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Khadija melanjutkan pertanyaannya. “Apa yang terjadi?”
“Sebelumnya kami minta maaf, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi, ternyata Tuhan mempunyai kehendak lain. Anak anda tidak bisa kami selamatkan karena penyakit yang dideritanya sudah sangat parah”, ucap salah seorang dokter.
“Jadi, maksud dokter anak saya meninggal?”
“Iya! Sekali lagi, kami minta maaf” Jawab dokter sambil memegang pundak Khadija. Dokter berusaha meyakinkan Khadija kalau anaknya telah kembali menghadap kepada-Nya. Anak tersayangnya telah pergi untuk selamanya.

Belum kering air mata Khadija karena perlakuan Subono, air matanya pun kembali membanjiri pipinya. Usahanya mencari biaya perawatan anaknya hanyalah sia-sia. Anaknya telah pergi meninggalkan luka yang teramat dalam. Anaknya telah menghadap kembali kepada Sang Khaliq. Tak ada lagi senyum, canda tawa, dan tangis yang menghias hari-harinya. Semua terkubur bersama jasad anaknya tercinta. Namun, Khadija tetap tegar menghadapinya karena dia yakin kalau itu adalah suatu cobaan dari Allah SWT.

Makassar, l4 Juni 2007

Bagikan ke

0 Komentar