Oleh: Ian Ipass

Malam yang selalu akan terasa seperti perahu tanpa kemudi. Tanpa arah, tanpa pegangan. Meski aku telah mencoba membuat kemudi dari kucuran air mataku. Tapi, badai tak pernah mampu kuhalau jauh hingga tangisan batinku terhenti. Yah, batinku selalu menangis dan menangis lagi untuk yang kesekian kalinya. Atau, aku yang selalu merasa bahwa aku selalu benar dan benar. Aku sadar bila aku pernah menanam duka di pelataran jiwamu. Tapi, salahkah aku jika duka itu ingin kurubuhkan dengan cintaku yang masih menjulang untukmu? Sejak saat itu, tak pernah lagi kau berikan sepenggal hati yang selalu kulindungi dengan ihklasku. Tak pernah lagi ada............!!!!!!!!
***
Langkahku menyusuri gang kecil di antara riuh kendaraan. Entah apa yang kupikirkan kali ini. Seolah aku tak pernah tahu jika langkahku terus berayun dan membawaku pada kepiluan yang selalu dan selalu membuatku gelisah, galau, sepi, dan berhenti tersenyum untuk waktu yang tak pasti. Mengkhayalkah aku? Mengapa aku merasa sakit saat bebatuan kecil terhempas pada dinding hatiku yang kebingungan mencari lentera yang meneranginya kala gelap bertahta? Mengapa galau tak pernah lepas dari ragaku meski beribu canda menghampiriku?
Mungkin takkan ada lagi bianglala yang membingkai senyumku kala sepi itu datang. Tak ada lagi pesona dari senyuman yang selalu membuatku damai. Aku pun tahu, kata maaf tak akan bisa menjadi obat untukku apalagi untukmu. Sebab, aku sendiri tak lagi mengenal kata itu. Semua raib oleh sepiku dan gundah hatiku yang seolah tak akan pernah hilang oleh apapun.
Oleh apapun.
Oleh apapun.
Oh tuhan, aku kini tersesat dalam kebingunganku sendiri. Tanpa kekasih, teman, dan siapapun atau apapun. Apakah aku tersesat dalam duniaku sendiri tanpa lentera? Tanpa senyum dari bibirku? Tanpa...............??? Ke mana aku melabuhkan ragaku yang remuk? Ke mana aku bawa hati yang tak lagi berbentuk? Ke mana aku harus membuang beban dalam benakku? Ke mana???
Semoga saja ada bidadari yang turun dari langit dan membawaku pergi jauh hingga aku mampu melupakan segala resahku. Temaniku menyulam aksara menjadi sajak senyum yang setiap hari akan kudendangkan untuknya. Yah, hanya untuknya.

Muhajirin, 10 September 2009
Aku sepi dalam hingar bingar malam.

Bagikan ke

2 Komentar

sebuah doa untuk sebuah kebahagiaan....

selalulah berkarya...

Makasih tman!Tinta penaku tak akan kubiarkan kering!